Pernyataan Relawan Pendidikan Politik Orang Muda Katolik
Pernyataan Relawan Pendidikan Politik Orang Muda Katolik PDF Print E-mail
Ecclesia - Katolik Muda
Written by Redaktur   
Tuesday, 02 December 2008 03:19

JEJARING MUDA KATOLIK INDONESIA
RELAWAN PENDIDIKAN POLITIK ORANG MUDA KATOLIK
KOMISI  KEPEMUDAAN KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA
2008

 
Pengantar                                                      
Tanggal 27 – 30 November 2008, kami, 62 relawan  pendidikan politik Orang Muda Katolik (OMK) sekaligus delegasi 25 keuskupan se Indonesia telah menjalani proses pertemuan  di Klender Jakarta. Pertemuan ini merupakan salah satu upaya yang difasilitasi oleh Komisi Kepemudaan KWI dalam melaksanakan amanat Gereja Katolik Indonesia untuk ikut mempersiapkan OMK keuskupan-keuskupan demi tugas perutusan mereka di tengah masyarakat. Kami berproses dengan akrab, diterangi oleh Sabda-Nya, disegarkan  oleh perayaan sakramen Ekaristi dan disemangati oleh rasa persaudaraan sebagai murid-murid pilihan Tuhan.
 


Proses      
Kami berproses dengan metode lokakarya, yaitu bahwa kami sejak dari keuskupan masing-masing sudah membawa bahan dari pengalaman dan analisis situasi kemasyarakatan aktual. Dari yang sudah kami “perbuat” di keuskupan masing-masing, kami “membuat” hal nyata bagi jaringan pendidikan politik, sekaligus meningkatkan ketrampilan kami secara praktis.
 
Pada pertemuan ini, kami belajar dan mengasah kemampuan  praktis untuk kepentingan pendidikan politik. Kami memulai proses pada hari pertama dengan saling berkenalan antar kami para peserta dan bersama-sama berbaur mengolah pengalaman. Di sini kami menyadari bahwa pertemuan ini adalah salah satu jawaban tentang bagaimana partisipasi OMK dalam politik dengan memanfaatkan momentum pemilu 2009, dengan beberapa point kunci yang kami pandang strategis:
- Memperkuat kerjasama antar Komisi Kepemudaan dan jejaring tim relawan politik OMK
- Membangun, memelihara, meningkatkan, mengembangkan kepedulian dan partisipasi OMK dalam bidang Sosial  Politik (termasuk didalamnya politik praktis),
- Berupaya mengembangkan sistem dan praksis kaderisasi OMK yang terlibat dalam berbagai bidang hidup menggereja dan bermasyarakat.
 
Dari proses berbagi pengalaman praksis kami mendapatkan beberapa kata kunci:
- OMK di setiap KomKep menjadi bagian dari denyut demokratisasi Indonesia yang tiada henti mengalami peristiwa-peristiwa Pemilu di tingkat lokal (Pilkada) dan denyut peristiwa politik menjelang Pemilu 2009.
- OMK juga adalah bagian integral dari Indonesia yang khas dengan beragamnya keadaan geososial-politik di setiap lokus.
- Kami merasakan pula bahwa persoalan apatis-pragmatis di kalangan OMK cukup menggejala dan mencemaskan, dengan gejala umum: sikap OMK yang tahu tetapi tak mau tahu dengan Politik.

Di hari kedua antara kami dan narasumber melakukan belajar bersama dengan membedah topik-topik sebagai berikut:
1. Sistem Politik Indonesia Aktual
2. Tantangan Pemilu 2009
3. Tantangan Pendidikan Politik OMK
4. Spritualitas Politik OMK
 
Di hari ketiga kami masuk dalam proses berlatih membuat metodologi alternatif pendidikan politik OMK yakni  membuat Poster Politik, Riset Aksi Partisipatoris, Jingle Radio, Film pendek, dan aktivasi website pendidikan politik OMK. Dan pada hari akhir kembali kami melakukan shering antar Regio Komkep lalu, menyampaikan rumusan dan rekomendasi akhir dari seluruh kegiatan ini.
 

Penemuan
OMK merupakan kekuatan amat penting dalam Gereja dan masyarakat. Dari hari ke hari peran OMK di bidang sosial-kemasyarakan makin tampak. Sadar akan pentingnya partisipasi OMK dalam dunia politik, maka hendaknya secara intensif diusahakan pendidikan kewarganegaraan dan politik. Atas dasar inilah, Komisi Kepemudan KWI, yang didukung Kerawam KWI, membuat pendidikan politik bagi OMK di Samadi Klender, 27 – 30 November 2008. Kegiatan ini menjadi sebuah rintisan untuk membuat pendidikan politik untuk OMK jangka panjang dan berkelanjutan. Karena itu, pendidikan politik seharusnya menjadi salah satu orientasi dalam pendampingan OMK di setiap keuskupan.

1. Potret OMK dalam Dunia Politik
OMK, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, belum memainkan peran sebagaimana mestinya. Sebagian besar OMK ternyata masih bersikap apatis-pragmatis terhadap politik. Bagi mereka politik adalah urusan orang-orang yang punya “kompetensi”, yang dalam hal ini asumsinya adalah orang tua. OMK juga berpandangan bahwa politik itu “kotor”, tak mendewasakan dan penuh aksi tipu muslihat.

2. Spiritualitas Berpolitik
Berpolitik memiliki dasar spiritual dalam seluruh sejarah keselamatan manusia. Sejak dalam Perjanjian Lama Allah menghendaki keselamatan semua orang, yang berpuncak pada pemberian Diri Allah dalam Yesus Kristus. Keselamatan itu meliputi segala aspek dan dimensi kehidupan, termasuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Itulah sebabnya semua negara dan pemerintahan bertujuan sama, yaitu mewujudkan kesejahteraan umum (bonum commune). OMK sebagai bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara dipanggil untuk mewujudkan keselamatan melalui keterlibatan dalam setiap aspek kehidupan bangsa, salah satunya adalah  kehidupan berpolitik. Berpolitik merupakan profesi dan sekaligus panggilan. Artinya bahwa setiap warga negara, termasuk OMK dipanggil untuk berperan maksimal, strategis, dan bertangung jawab.

3. Kondisi Politik Indonesia Aktual
Bergulirnya arus globalisasi di akhir abad XX telah membawa pengaruh besar bagi seluruh dunia, termasuk bangsa Indonesia. Sebagai bangsa yang baru berkembang, Indonesia merasakan dampak globalisasi secara luar biasa. Sebagai tanggapan atas tantangan globalisasi ini, bangsa Indonesia mencoba melakukan perubahan dalam sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, salah satunya adalah kehidupan demokrasi. Sebagai kosekuensi masa transisi demokrasi di Indonesia saat ini sedang berlansung proses desentralisasi, restrukturalisasi kelembagaan, multiplikasi aktor dan rekulturalisasi perilaku.

4. OMK Menyambut Pemilu 2009
Perlu grand design pendidikan politik orang muda sejak sekarang, dan temu relawan ini menjadi usaha yang baik untuk membuat rancang bangun pendidikan politik OMK. Partisipasi politik salah satunya dilakukan dengan mengikuti atau turut memilih wakil dan pemimpin dalam pemilihan umum 2009 dan seterusnya secara cerdas dan bertanggungjawab.

5. Ketrampilan Praktis dan Efektif
Para relawan pendampingan OMK keuskupan-keuskupan, sudah saatnya menguasai ketrampilan praktis untuk memperluas jaringan dan efektifitas penyampaian pesan berpolitik dengan landasan moral Pancasila dan spritualitas Katolik, sehingga praktek politik yang busuk dibawa kepada praktek politik yang bermoral sesuai hakikatnya.
 

Kesimpulan                 
1. Kami Relawan Pendidikan Politik Orang Muda Katolik (OMK) menyadari perlunya mendorong partisipasi politik OMK yang didasari dengan pendidikan politik yang memadai
2. Dalam pendidikan politik tersebut perlu didasari dan diperkuat oleh unsur-unsur spiritual  Katolik yang menjadi  butir-butir pencerahan yang membimbing proses  pendidikan politik itu sendiri
3. Pendidikan politik bagi OMK ditujukan agar OMK memperoleh wawasan yang lebih nyata tentang situasi politik yang  dapat mendorong kepedulian OMK terhadap  politik . Diharapkan hal tersebut dapat membangkitkan motivasi untuk secara mandiri meningkatkan  kompetensi dirinya yang akan dibutuhkan dalam keterlibatan OMK dalam politik.
 
Rekomendasi:
1. Perlunya suatu desain program pendidikan politik OMK yang berjenjang dan  berkesinambungan.
2. Pentingnya dukungan hirarki  gereja terhadap proses pendidikan politik OMK .
3. Para Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan tetap  memotivasi dan membuka ruang bagi pendidikan politik OMK serta mendorong keterlibatan aktif OMK dalam pendidikan politik.
4. OMK adalah bagian integral dari Gereja Katolik Indonesia. Karena itu, segenap unsur Gereja Katolik Indonesia  secara khusus Dewan Paroki di bawah pimpinan Pastor Paroki, hendaknya  melibatkan OMK dalam pengambilan keputusan khususnya yang menyangkut karya sosial-kemasyarakatan paroki. Para Gembala umat hendaknya mendampingi OMK yang sudah aktif dalam usaha penyadaran kemasyarakatan  dengan spiritualitas Katolik dan Ajaran Sosial Gereja.
5. Perlunya jejaring relawan pendidikan politik OMK untuk menjadi sarana interaksi dan informasi yang dapat memperluas dan memperkuat karya pastoral  OMK. Secara fisik, jejaring itu berupa website www.jejaringmudakatolik.web.id, maupun pertemuan bekala di tingkat regio  serta provinsi gerejawi. Komisi-Komisi Kepemudaan keuskupan, hendaknya memperhatikan dan mengaktifkan fungsi jaringan internet sebagai salah satu sarana pendidikan politik OMK, dan proaktif untuk bekerja sama dalam jaringan.
 
 
Penutup
Kami berterima kasih atas dukungan para Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan, serta berbagai pihak, atas terselenggaranya pertemuan ini. Kami pun bersyukur kepada Tuhan. Kami siap sedia menjalankan perutusan dengan gembira, seperti refleksi iman nabi Yeremia, “Jangan katakan: ‘aku ini masih muda’, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah kamu pergi dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu haruslah kau sampaikan” (Yer 1:7). Semoga Allah Bapa yang telah mengutus Putera-Nya serta membimbing kami dalam Roh Kudus, memberkati niat dan usaha Orang Muda Katolik Indonesia.

Jakarta, 30 November 2008

PESERTA TEMU RELAWAN

(Keuskupan Surabaya)
1 Vincentius Yudhit Ciphardian
2 Yulianus Andre Yuris
3 Markurius Ari Susanto

(Keuskupan Semarang)
4 Aloysius Adam Purwanto
5 Cyprianus Lilik Krismantoro P
6 Petrus Goro hendratmoko
7 Agung Sulistiono

(Keuskupan Bogor)
8 Theresia Avila Ratih Sawitridjati
9 Rita B. Marcia Simanjuntak
10 Fabianus Eko Eriyanto

(Keuskupan Sanggau)
11 Stephanus Hendrik K, SH

(Keuskupan Sintang)
12 Nikodemus, SE
13 Kristoforus Apin, SE

(Keuskupan Pontianak)
14 Thomas Ariston
15 Agapitus

(Keuskupan Samarinda)
16 Wines Ruruk

(Keuskupan Maumere)
17 Kristianus Amstrong

(Keuskupan Makassar)
18 Henny Maria Anastasia, S.Pol
19 Laurentia Sambuanga

(Keuskupan Kupang)
20 Arkadius Y. Manek

(Keuskupan Medan)
21 Bryanta Tarigan
22 Antonius Jadi Muli Ginting

(Keuskupan Merauke)
23 Musa
24 Bon Efasius
25 Monica

(Keuskupan Ende)
26 Caecilia Inggriani

(Keuskupan Jakarta)
27 Marselinus Vatisan Siga
28 Agnes Purba
29 Thomas Harming
30 Ristawati Malau
31 Sulistyanto Santoso

(Keuskupan Ketapang)
32 K.B. Ignasius R. Tigor, S.S

(Keuskupan Malang)
33 Serapion P. Prayoga W
34 Felix Sad Windu Wisnu Broto
35 Vinsensius Santoso

(Keuskupan Manado)
36 Pst. Joutje Palit
37 Harold H. Pratasik
38 Fransiska N.Z. Angkouw

(Keuskupan Purwokerto)
39 Pst. Kristiaji, MSC
40 Fendy
41 Soni
42 Pst. Ary Setyawan Pr

(Keuskupan Padang)
43 Emmanuel H. Laia
44 Angela Yomi Hapsari Purnaningsiwi
45 Eduard Dino Prawirasuyanto

(Keuskupan Jayapura)
46 Florry koban
47 Nong Desa

(Keuskupan Tanjungselor)
48 Kornius
49 Albert Baya

(Keuskupan Bandung)
50 Fransiskus Irvan
51 Fransiscus Xaverius Siswanto Duran
52 Yosep Kusnadi
53 Theresia Silviana Suryo Putri
    
(Keuskupan Denpasar)
54 Faris Wangge
    
(Keuskupan Timika)
55 Theodorus Harjo Soekotjo
    
(Keuskupan Amboina)
56 Bernarus Turlel
57 Matias Watunglawar
58 Frangky Renmaru
59 Pst. Matheus Nusmese Pr

(Keuskupan Tanjungkarang)
60 Andreas Wasono Saputro
61 Alfons Catur Novena Putra
62 Rossy Mario Endhy Ristianto
 
Mengetahui,
Komisi Kepemudaan KWI
 
Y. Dwi Harsanto, Pr
Sekretaris Eksekutif

Mgr. Y. Harjosusanto, MSF
Ketua

 

(by: Y.D. Harsanto)

 
Joomla Templates by Joomlashack